Senin, 29 Januari 2018

Situ Babakan (Kampung Betawi), Penerapan Konsep Tradisional Sebagai Bentuk Pelestarian di Metropolitan





Situ yang berada di Indonesia merupakan warisan colonial, dengan fungsi utama sebagai wadah penampungan air. Namun keberadaan situ terus tergerus dengan pertumbuhan wilayah. Seyogyanya dan berdasar paraturan yang berlaku, situ memiliki kekuatan hukum dan kekuatan fungsi dimana pembangunan yang terjadi disekitar situ harus merespon keberadaan situ, yang di maksudkan bangunan sekitar yang menyesuaikan situ, bukan sebaliknya.
Bukan hanya situ yang kehilangan hirarkinya, namun kebudayaan tradisional Indonesia pun terkena dampak. Keberagaman masyarakat, perkembangan pola pikir, pertumbuhan dan waktu yang terus berjalan mempengaruhi kebudayaan dan “ketradisional-an” dari keberagaman rakyat Indonesia.
Pada situ Babakan di wilayah Srengseng Sawah, Jakarta selatan ini dilakukan revitalisasi dan pelestarian. Dalam bentuk mengembangkan perkampungan budaya Betawi dan menjadikannya konsep kawasan pada situ Babakan ini. Dalam wilayah ini juga komunitas ditumbuh kembangkan budaya yang meliputi hasil gagasan dan karya baik fisik maupun non fisik.
Dalam sejarahnya, penetapan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun 1996. Sebelum itu, Pemerintah DKI Jakarta juga pernah berencana menetapkan kawasan Condet, Jakarta Timur, sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi, namun urung (batal) dilakukan karena seiring perjalanan waktu perkampungan tersebut semakin luntur dari nuansa budaya Betawi-nya. Dari pengalaman ini, Pemerintah DKI Jakarta kemudian merencanakan kawasan baru sebagai pengganti kawasan yang sudah direncanakan tersebut. Melalui SK Gubernur No. 9 tahun 2000 dipilihlah perkampungan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi. Kegiatan Konservasi yang dilakukan di Setu Babakan meliputi pengelolaan kawasan, dimana fokus usaha yang dilakukan meliputi penataan baik dari pengelolaan pengunjung, penataan bangunan hingga infrastruktur di dalamnya.

Ada tiga tipe rumah tradisional betawi di situ babakan yaitu Joglo, Gudang, dan Bapang. Jenis dibedakan oleh atap dan lebarnya rumah (Syafwandi et Al, 1996). Pada akhirnya arsitektur rumah tradisional Betawi akan mengalami trnasformasi desain dalam menyesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat yang ada. Akibatnya tidak mustahil bila mana yang tersisa nantinya adalah ornamen-ornamen atau detail-detail hiasan. Detail yang dimaksud meliputi: daun jendela, daun pintu, langkang dan gigi baling. Empat elemn ini yang pada akhirnya nanti bisa bertahan karena proses seleksi yang masih bias diterapkan dalam bangunan masa kini. Meski mengalami gubahan bentuk.
Di situ babakan, jenis bangunan berarsitektur khas betawi sudah tidak terlihat lagi secara utuh kecuali bagian teras atau serambi yang masih dihadirkan dalam ukuran besar dan seadanya. Pada umumnya masyarakat betawi menambahkan bentuk ornament pada bagian listplank yang memiliki ukuran atau pola tertentu khas betawi pada bangunan rumah karena mudah dan murah. Material yang digunakan pada Rumah Betawi di Setu Babakan adalah kayu dan beton. Warna bangunan yang digunakan pada rumah Betawi di Setu Babakan adalah Coklat, Kuning, dan Biru.  Arti dari Warna kuning adalah keceriaan dan warna biru berarti kesejukan. Kesimpulannya, orang Betawi memiliki sifat ceria dan memberikan kesejukan. 

SUMBER REFRENSI :
arighudul.wordpress.com/2016/05/25/konservasi-arsitektur-kawasan-setu-babakan-jakarta-selatan/
putrikumalasari.blogspot.co.id/2014/07/konservasi-arsitektur-setu-babakan.html